Shalom..., Selamat Datang di GBI MALL TAMAN ANGGREK - GBI SEASON CITY

Renungan

PENGURAPAN DALAM HIDUP ORANG PERCAYA

Salah satu hal yang membedakan antara orang percaya dengan orang yang belum percaya adalah adanya pengurapan Tuhan dalam hidupnya. Sebagai pengikut Kristus, seyogyanya pengurapan bukanlah menjadi sesuatu yang asing, melainkan menjadi bagian yang penting dalam perjalanan iman dan keseharian kita mengiring Dia. Kata ‘Kristus’ itu sendiri sebenarnya memiliki arti ‘Yang diurapi’, sehingga kita yang percaya kepada Kristus sudah seharusnyalah menjadikan pengurapan sebagai bagian yang penting dan tidak terpisahkan dalam perjalanan hidup orang percaya.
Di wadah kita, pengurapan benar-benar bukanlah sesuatu yang baru. Bahkan telah kita ketahui bersama bahwa pengurapan menjadi salah satu fokus dalam ibadah kita, selain hadirat Tuhan dan bahasa roh. Tindakan pengurapan juga tidak jarang dilakukan oleh para pemimpin rohani kepada kita. Selain itu, tindakan pengurapan juga sering kita jumpai dilakukan kepada orang sakit, pengurapan pada rumah/kantor/usaha baru, dan sebagainya.

PANDANGAN ALKITAB TERHADAP PENGURAPAN
Dalam Oxford dictionary, kata ‘pengurapan’ berasal dari kata “Anoint”, yaitu to put oil on somebody or on part of somebody’s body as part of a religious or other ceremony.” Di dalam Alkitab, event pengurapan juga beberapa kali kita jumpai, baik itu pengurapan yang dilakukan atas manusia ataupun pengurapan atas benda. Pada artikel kali ini, kita akan berfokus pada pengurapan yang dilakukan atas manusia.
Di dalam Perjanjian Lama, kita dapat menemukan tindakan pengurapan pada acara ritual keagamaan (untuk menyucikan item-item keagamaan) dan penahbisan Imam Besar, misalnya:
• imam-imam yang melayani (Kel 40:15),
• pengangkatan seorang Raja (1 Sam 16:1; 12-13), serta
• pengangkatan seorang Nabi (1 Raj 19:16).
Dalam Perjanjian Lama, memang hanya orang-orang khususlah yang dapat menerima pengurapan. Sedangkan dalam Perjanjian Baru, pengurapan diberikan kepada orang percaya yang sudah menjadi milik Yesus dan memiliki Yesus. (2 Kor 1:21-22; 1 Yoh 2)
Seringkali yang kita temui dalam Alkitab jika bicara pengurapan, instrumen yang dipakai adalah minyak. Minyak sering digunakan sebagai lambang persetujuan Allah, kehadiran Allah, berkat, kuasa, penghiburan, kesembuhan, sukacita, perkenanan, kesejahteraan, dan otoritas (Warren, 2019). Penggunaannya pun dapat ditaruh di kepala (Mzm 23:5; Pkh 9:8), kaki (Luk 7:38; Yoh 12:3), mata (Why 3:18) dan juga di muka (Mzm 104:15). Dalam Perjanjian Baru tidak terlalu ditekankan tentang minyak, tetapi Roh Kudus menjadi instrumen pengurapan itu sendiri (2 Kor 1:21-22). Roh Kudus yang memenuhi/menguasai seringkali mengiringi tindakan pengurapan baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru.

PRINSIP YANG MENDASARI PENGURAPAN MINYAK
Prinsip konsekrasi, yaitu memisahkan atau mengkhususkan sesuatu atau seseorang kepada Tuhan. Kita telah melihat beberapa contoh di pembahasan sebelumnya bahwa prinsip ini menjadi bagian dari praktek kehidupan rohani umat Tuhan di Perjanjian Lama.
Di zaman Perjanjian Baru, prinsip ini juga dipraktekkan oleh umat Tuhan seperti dalam Yakobus 5:14, “Kalau ada seorang di antara kamu yang sakit, baiklah ia memanggil para penatua jemaat, supaya mereka mendoakan dia serta mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan.”

Kalimat “mengoles dengan minyak” dalam ayat ini memiliki maksud agar orang yang sakit dibawa kepada Tuhan untuk mendapatkan belas kasihan-Nya. (NIV Zondervan Study Bible) Pemahaman ini mengandung makna konsekrasi di dalamnya. Prinsip konsekrasi yang dilambangkan dengan pengolesan minyak tetap berlaku pada era Perjanjian Baru.
Setiap tindakan pengurapan selalu membawa pesan khusus di dalamnya. Pengurapan bukan sembarangan diberikan/ dilakukan tanpa maksud dan tujuan. Yesus Kristus pun sebagai “Yang Diurapi” dalam Lukas 4:18-19 dijelaskan bahwa,
“Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.”

Oleh karena itu, pengurapan yang kita terima harus kita sadari sebagai bagian dari perjalanan kita dalam panggilan-Nya, seperti Yesus berjalan selama Ia ada di bumi ini, Kisah Para Rasul 10:38 mencatat,
“yaitu tentang Yesus dari Nazaret: bagaimana Allah mengurapi Dia dengan Roh Kudus dan kuat kuasa, Dia, yang berjalan keliling sambil berbuat baik dan menyembuhkan semua orang yang dikuasai Iblis, sebab Allah menyertai Dia.”

Jikalau Yesus saja menerima pengurapan dari Allah, terlebih lagi kita. Dalam hidup kita setiap hari, sebagai umat gembalaan-Nya, Tuhan pun telah berkata bahwa Ia sebagai gembala yang baik akan mengurapi kepala kita dengan minyak. (Mzm 23:5b)
Saat ini kita ada di era Pentakosta yang ketiga di mana kita menjadi ‘Messenger of the Third Pentecost’, pengurapan sungguhlah sangat diperlukan untuk menuntaskan Amanat Agung-Nya. Pekerjaan kerajaan-Nya tidak dapat kita lakukan dengan kekuatan kita sendiri karena kita begitu terbatas. Kita sungguh membutuhkan pengurapan dari-Nya yang Ia berikan melalui para pemimpin rohani di atas kita. Untuk itu, masuk dalam tahun 2020 yaitu ‘Tahun Dimensi yang Baru’, pastikan kita berjalan dalam pengurapan-Nya setiap hari. Jangan lewatkan kesempatan-kesempatan yang Tuhan berikan di 2020 untuk kita diurapi oleh Dia melalui para pemimpin kita. Terima pengurapan-Nya dengan iman dan mulai melangkah mengerjakan apa yang Roh Kudus tuntun. Jangan lupa untuk berdoa setiap pagi hari di dalam saat teduh kita, meminta pengurapan dari Tuhan yang akan memampukan kita menjalani hari-hari kita seturut kehendak-Nya. (HT)
 


 



 

BACK..